16 Nov

Tawakal

Tawakal merupakan amalan hati:

Menurut Imam Ahmad bin Hambal: Tawakal merupakan aktivis hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan. (Al-Jauzi/ Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337)

Tawakal merupakan ibadah uluhiyah:

Ibnu Qoyim al-Jauzi berkata: “Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-faktor yang mengarakhkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.” (Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)

Definisi tawakal secara lughowi:

Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan (Munawir, 1984 : 1687) sesuatu urusan kepada pihak lain karena mengakui ketidakmampuan diri.

Definisi syara’:

mempercayakan sepenuhnya kepada Allah dengan keyakinan bahwa Allahlah yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, disertai dengan upaya menjalankan semua penyebab yang diperintahkan Allah. (menurut Ibnu Utsaimin).

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dlm mengupayakan yang dicari & menolak apa-apa yang tak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala & menempuh sebab (sebab adalah upaya & aktifitas yang dilakukan utk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at.

Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam, “Tawakal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘azza wa jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata‘.”

Menurut Syeikh Utsaimin syarat tawakal ada 2: Pertama, penyandaran diri kepada Alloh dengan sebenar-benarnya dan nyata. Kedua, harus menempuh sebab yang diizinkan syariat.” (al Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid, Ibnu Utsaimin, 2/87-88)

Kesimpulan tawakal menurut dien:

  1. 1.     Allahlah yang mendatangkan manfaat bagi mahluk-Nya

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala (yang artinya):

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).

Al Qurtubi dalam Al Jami’ Liahkamil Qur’an mengatakan, “Barang siapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini kepada Abu Dzar. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Seandainya semua manusia mengambil nasihat ini, sungguh hal ini akan mencukupi mereka.” Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka. (Jami’ul Ulum wal Hikam, penjelasan hadits no. 49).

Bertaqwa adalah sebuah sikap untuk menjaga diri agar senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Dalam mengambil sikap taqwa ia kemudian bertawakal kepada Allah terhadap segala resiko yang akan dihadapi dalam ketaqwaannya itu. Dan Allah memberikan jaminannya kepada hambanya yang bertakwa itu untuk memberikan jalan keluar.

Misalnya seseorang yang mengalami kesulitan ekonomi tapi dia mengambil sikap takwa, yaitu tetap tidak mengambil rezeki yang haram meski ada kesempatan dan ia sangat membutuhkan. Ia bertawakal kepada Allah, menyerahkan semuanya kepada Allah sambik terus berikhtiar mengusahakan rezeki yang halal meski sulit. Maka, jika ia istiqomah Allah berjanji akan memberikan jalan keluar terhadap permasalahannya itu (yaj’alahu makhroja). Bahkan memberikan rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka (yarzuqhu min haistu la yastahsib). Dan dengan tawakal Allah akan mencukupi kebutuhannya (wa ma yatawakal ‘alallah wa huwa hasbuh).

Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, ‘Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.’ (QS. Al-Imran: 159)

berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Al Maidah: 23)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal. (QS. Al Maidah: 11)

 

  1. 2.     Allahlah yang menolak bahaya bagi mahluk-Nya

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), Maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal. (QS. Al Maidah:11)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”.(QS. Ali Imran: 60)

Contoh tawakal yang sempurna adalah kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang menentang penyembahan berhala kaumnya, kemudian beliau ditangkap dan dihukum akan di bakar si sebuah api unggun yang besar.

Nabi Ibrahim ditangkap dan diikat, sementara mereka bersegera mencari kayu api untuk membakarnya. Tak lama kemudian, kayu bakar pun terkumpul bagaikan bukit. Mereka mulai menyalakan api, dan berkobarlah api yang sangat besar, mengerikan. Dalam keadaan terikat, Nabi Ibrahim AS diletakkan pada salah satu manjanik (pelontar peluru/batu), lalu dilemparkan ke dalam kobaran api tersebut. Diceritakan, bahwa yang melontarkannya adalah ayahnya sendiri, Azar. Wallahu a’lam bish-shawab.

Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah Dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”. (QS. 37/97)

Pada waktu dilemparkan itu, beliau mengucapkan:

“Hasbunallah wa ni’mal wakil.”

“Cukuplah Allah bagiku, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” (HR. al-Bukhari no. 4563 dari Ibnu ‘Abbas).

Ketika beliau sedang melayang di udara itu, tiba-tiba Jibril datang menawarkan bantuannya, “Apakah engkau membutuhkan sesuatu?”

Nabi Ibrahim AS berkata, “Adapun kepadamu, tidak. Akan tetapi, kalau kepada Allah, tentu.” (Tafsir Ibnu Katsir, Surat al-Anbiya)

Menjawab kepasrahan Ibrahim ini Allah berfirman:

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, Maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. (QS. 21: 69-70)

Bertawakal atau bergantung itu hendaknya hanya kepada Allah, karena Allahlah yang bisa memberikan pertolongan dan kemanfaatan kepada manusia, ketika Allah memberikan pertolongan maka tidak ada satu makhlukpun yang mampu menimpakan bahaya atasnya. Dan tidak ada yang dapat melakukannya selain Allah.

  1. 3.     Harus dengan ikhtiar yang sesuai dengan syariat Allah.

Tawakal harus diteguhkan dengan dilakukannya sebab musabab: itsbatu fil asbabi wal musabaabi. Memiliki keyakinan akan keharusan melakukan usaha. Karena siapa yang menafikan keharusan adanya usaha, maka tawakalnya tidak benar sama sekali. Seperti seseorang yang ingin pergi haji, kemudian dia hanya duduk di rumahnya, maka sampai kapanpun ia tidak akan pernah sampai ke Mekah. Namun hendaknya ia memulai dengan menabung, kemudian pergi kesana denan kendaraan yang dapat menyampaikannya ke tujuannya tersebut.

Ibnu Rajab mengatakan bahwa menjalankan tawakal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan. Karena Allah memerintahkan kita untuk melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakal. Oleh karena itu, usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab termasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya.

Dari Umar bin Khattab ra berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: ” Ikatlah untamu dan bertawakallah ” ( R. Ibnu Hibban ).

Ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar hendak berhijrah ke Yastrib, mereka dikejar bala tentara kafir Quraisy kea rah selatan Mekkah. Ketika hamper terkejar Rasulullah dan Abu Bakar RA memasuki gua Tsur.

Abu Bakar berkata, “Aku bersama Rasulullah di dalam gua itu. Aku melihat telapak kaki orang-orang musyrik. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka mengangkat kakinya, niscaya mereka akan melihat kita.” Namun, Rasulullah menghibur Abu Bakar dan bersabda, ‘Apakah persangkaanmu terhadap dua orang sedang yang ketiganya adalah Allah?”

Tentang hal ini Allah menyebutkan dalam firman-Nya, “Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya. (Yaitu) ketika orang-orang kafir (Makkah) mengeluarkannya dari Makkah, sedangkan dia adalah salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua. Di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.” (QS. At-Taubah: 40).

Ayat lain tentang tawakal:

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. Taubah: 51)

Tawakal dalam dakwah:

Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. (QS. 10/71)

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS. 2/197)

Menurut suatu riwayat, orang-orang Yaman apabila naik haji tidak membawa bekal apa-apa, dengan alasan tawakal kepada Allah. Maka turunlah “watazawwadu fa inna khairo zadi taqwa” sebagian dari (S. 2: 197) (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lainnya yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Contoh tawakal:

Dari jabir ra ia berkata ”saya berperang bersama nabi saw menuju ke arah najd, tatkala rasulullah kembali kami pun ikut kembali, di suatu lembah yang banyak pohon berduri kami merasa payah dan mengantuk. rasulullah saw pun turun dan menggantungkan  pedangnya, sedangkan kami semua tertidur .tiba-tiba rasulullah saw memanggil kami sedangkan didekat beliau ada seseorang badui, kemudian beliau bersabda; sesungguhnya orang ini telah menghunus pedangku sewaktu aku tertidur, setelah aku terbangun pedang itu sedang terhunus di tangannya lalu orang ini berkata; siapakah yang dapat mencegah kamu dari seranganku?aku menjawab “Alloh (tiga kali) kemudian orang itu tidak melakukan apa-apa dan langsung duduk (HR bukhari dan muslim).

Tawakal dalam mencari rizki: Dari umar ra. ia berkata aku mendengar rasulullah saw bersabda’andaikan kalian benar-benar bertawakal  kepada Allah niscaya  Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana  dia memberik rezeki kepada burung  yaitu keluar dengan prut kosong di pagi hari dan kembali dengan perut kenyang di sore hari (HR tirmidzi).

 

 

Ridho

Ridho(رِضً) berarti suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah.

Kata ridha berasal dari bahasa Arab yang makna harfiahnya mengandung pengertian senang, suka, rela, menerima dengan sepenuh hati, serta menyetujui secara penuh , sedang lawan katanya adalah benci atau tidak senang.

Lawan ridho adalah murka, tidak terima.

Secara bahasa ridho berarti menerima apapun yang diberikan, menerima apapun ketentuan Allah.

Secara agama ridho ada 2:

  1. Ridho Allah kepada makhluq

Apabila makhluk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. (Kalau Allah ridho kepada makhluk maka Dia akan mengijabah doa hamba-hanba-Nya.

Allah berfirman: Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. Al Fath : 18)

  1. Ridho makhluk kepada Allah

Menerima semua takdir dan ketetapan dari Allah Ta’ala dengan rela dan tidak pernah mengeluh.

Contoh kasus: Misal Nabi Ayub sakit kulit dan ditinggal istri, anak dan hartanya.

Dasar ayat:

47/28

yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.

9/59

Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi Kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).

-menerima takdir dan ketentuan Allah dengan lapang dada.

– untuk mendapatkan ridho Allah diperlukan perjuangan dan pengorbanan agar memperoleh ridho Allah Ta’ala.

2/265

dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.

2/207š

 dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: