Tag Archives: amalan hati

syukur

16 Nov

Syukur

 

Tentang sabar dan syukur ini ada sebuah hadits yang sesuai betul dengan kedua tema ini:

Dalam hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ini, beliau bersabda.

“Artinya : Sunnguh mengagumkan perihal mu’min. Semua hal yang dialaminya adalah baik. Jika ia mendapat hal yang menyenangkan, ia bersyukur. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Jika ia tertimpa hal yang menyakitkan, ia bersabar. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Sifat itu tidak dimiliki siapapun kecuali oleh seorang mu’min” [Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Fathur Rabbani Lil Tartibi Musnadil Imam Ahmadabni Hanbal AS-Syaibani, Kitab Al-Qadar. Muslim, Shahih Muslim, Kitan Az-Zuhud Wa Ar-Raqaiq]

Makna Sukur

Syukur secara bahasa adalah berterima kasih. Menurut istilah syukur adalah memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita berupa perbuatan ma’ruf, dalam pengertian tunduk dan berserah diri kepada-Nya.

Manifestasi iman salah satunya berupa syukur dan sabar. Syukur maksudnya adalah pengakuan terhadap kebajikan dan kebaikan serta berterima kasih kepada yang memberikannya.

–        Syukur adalah memperlihatkan pengaruh nikmat Allah kepada hanbanya:

  1. Pada hatinya dengan keimanan

Yaitu mengakui nikmat-nikmat Allah dan mencintainya. “Mengingat kenikmatan akan berpengaruh (membekas) pada kecintaannya kepada Allah Azza wa Jalla.” (H.R. Abu Sulaeman al-Washitiy).

Keimanan bertambah adalah wujud adanya rasa syukur.

 

  1. Pada lisannya dengan pujian

Yaitu memuji kepada-Nya dan atas anugrah ynag dilimpahkanNya [93:11]. Selain itu mempunyai kesadaran untuk menyatakan bahwa nikmat itu datang hanya dari sisi Allah [16:53]

Mengucapkan hamdalah

 

  1. Pada anggota badannya dengan amal ibadah dan ketaatan.
  • Yaitu dengan menggunakan anggota tubuh/melakukan aktivitas dalam rangka tunduk kepada-Nya yang ditujukan hanya untuk memperoleh keridhaan-Nya. Juga dengan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan serta mempersembahkan dan menundukkan kenikmatan yang dilimpahkan Allah untuk menaati-Nya dan memperoleh keridhaan-Nya. Contoh: Sholat tepat waktu

 

27/40

tA$s% “Ï%©!$# ¼çny‰ZÏã ÒOù=Ïæ z`ÏiB É=»tGÅ3ø9$# O$tRr& y7‹Ï?#uä ¾ÏmÎ/ Ÿ@ö6s% br& £‰s?ötƒ y7ø‹s9Î) y7èùösÛ 4 $£Jn=sù çn#uäu‘ #…É)tGó¡ãB ¼çny‰ZÏã tA$s% #x‹»yd `ÏB È@ôÒsù ’În1u‘ þ’ÎTuqè=ö6u‹Ï9 ãä3ô©r&uä ÷Pr& ãàÿø.r& ( `tBur ts3x© $yJ¯RÎ*sù ãä3ô±o„ ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ’În1u‘ @ÓÍ_xî ×Lq̍x. ÇÍÉÈ

40. berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

 

[1097] Al kitab di sini Maksudnya: ialah kitab yang diturunkan sebelum Nabi Sulaiman ialah Taurat dan Zabur.

 

LAWAN SYUKUR ADALAH KUFUR

PRINSIP SYUKUR:

  1. Syukur untuk diri sendiri dalam menghadapi ujian.(27/40)
  2. Syukur berarti ridho, kufur berarti marah/murka.

39/7

bÎ) (#rãàÿõ3s?  cÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî öNä3Ztã ( Ÿwur 4ÓyÌötƒ Ínϊ$t7ÏèÏ9 tøÿä3ø9$# ( bÎ)ur (#rãä3ô±n@ çm|Êötƒ öNä3s9 3 Ÿwur â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír 3“t÷zé& 3 §NèO 4’n<Î) /ä3În/u‘ öNà6ãèÅ_ö¨B Nä3ã¥Îm7t^ã‹sù $yJÎ/ ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? 4 ¼çm¯RÎ) 7OŠÎ=tæ ÏN#x‹Î/ ͑r߉Á9$# ÇÐÈ

7. jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu[1307] dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[1308]. kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.

 

[1307] Maksudnya: manusia beriman atau tidak hal itu tidak merugikan Tuhan sedikitpun.

[1308] Maksudnya: masing-masing memikul dosanya sendiri- sendiri.

 

 

  1. Jika syukur maka nikmat akan ditambah oleh Allah sebaliknya jika kufur maka akan di beri azab oleh Allah. 14/7

øŒÎ)ur šc©Œr’s? öNä3š/u‘ ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯Ry‰ƒÎ—V{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) ’Î1#x‹tã ӉƒÏ‰t±s9 ÇÐÈ

7. dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

 

  1. Dalam bersyukur akan menemui banyak godaan. 7/17
  • §NèO Oßg¨Yu‹Ï?Uy .`ÏiB Èû÷üt/ öNÍk‰É‰÷ƒr& ô`ÏBur öNÎgÏÿù=yz ô`tãur öNÍkÈ]»yJ÷ƒr& `tãur öNÎgÎ=ͬ!$oÿw¬ ( Ÿwur ߉ÅgrB öNèdtsVø.r& šúï̍Å3»x© ÇÊÐÈ

17. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

 

 

Orang yang beriman dan melakukan amal shalih menghadapi keberuntungan dengan rasa syukur dan sikap prilaku yang membuktikan kesungguhan syukur itu, dan menghadapi bencana dengan bersabar dan bersikap prilaku yang membuktikan kesungguhan kesabaran itu. Dengan demikian, hal itu dapat membuahkan di hatinya kesenangan kegembiraan dan hilangnya kegundahan, kesedihan, kegelisahan, kesempitan dada dan kesengsaraan hidup. Selanjutnya, kehidupan bahagia akan benar-benar menjadi realita baginya di dunia ini.

Sedangkan yang lain menghadapi kesenangan hidup dengan kcongkakan, kesombongan dan sikap melampui batas. Lalu, melencenglah moralnya. Ia menyambut kesenangan hidup seperti halnya binatang yang menyambut kesenangan dengan serakah dan rakus. Seiring itu, hatinya tidak tenteram. Bahkan, hatinya bercerai berai oleh berbagai hal. Hatinya bercerai-berai oleh kekhawatirannya terhadap sirnanya segala kesenangan dan banyaknya benturan-benturan yang pada umumnya, muncul sebagai dampaknya. Harinya bercerai berai tak menentu, karena memang hasrat jiwa tidak mau berhenti pada suatu batas. Bahkan, terus gandrung kepada keinginan-keinginan lain, yang kadangkala dapat terwujud dan kadangkala tidak dapat terwujud.

Andaikan di bayangkan dapat terwujud, ia pun tetap gelisah oleh hal-hal tadi. Ia pun menyambut cobaan yang sulit dengan rasa gelisah, keluh kesah, khawatir dan gusar. Tidak usah anda bertanya tentang dampak buruk dari itu semua, yang berupa kesengsaraan hidup, teridapnya penyakit jiwa maupun syaraf dan rasa kekhawatiran bercampur ketakutan yang bisa jadi, pada gilirannya akan menyeret ke kondisi yang paling buruk dan malapetaka yang paling mengerikan. Karena ia tidak mempunyai harapan pada pahala Ilahi dan tidak memiliki kesabaran yang mampu melipur hatinya dan meringankan beban yang dirasakannya.

[Disalin dari kitab Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penulis Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Diterbitkan Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]
_________

 

 

 

Advertisements

sabar

16 Nov

SABAR (صَبْرٌ)

 

Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “Shobaro”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran”. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah.

Sedangkan dalam makna syara’, makna sabar adalah “Bertahan dalam mengerjakan sesuatu yang diperintahkan Allah & menahan diri dari mengerjakan sesuatu yang dilarang oleh Allah, serta menerima takdir baik yang menyakitkan maupun yang menyenangkan.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95). Ibnul-Mubarak berkata dengan sanadnya dari Said bin Jubeir, “Sabar ialah pengakuan hamba kepada Allah atas apa yang menimpanya, mengharapkan ridha Allah semata dan pahala-Nya. Kadang-kadang seseorang bertahan dengan gigih dengan menguatkan diri, dan tidak terlihat dari dia kecuali kesabaran.”

Sedangkan jika mendefinisakan sabar maka akan didapatkan beberapa tingkatan dari sabar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24). Jadi tingkatan sabar itu adalah:

  1. 1.               Bertahan dalam mengerjakan perintah.

Adalah bersabar dengan cara berkomitmen sebagai seorang hamba untuk selalu mengikuti apa yang dikehendaki oleh Allah SWT; selalu berjalan sesuai dengan perintah-Nya. Inilah yang disebut sabar ma’allah, tingkatan sabar yang paling tinggi dan paling sulit. Dan Allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar- ‘innallaha ma’a shabirin’ (Al-Baqarah [2]: 153).

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Sabar untuk mengajarkan perintah Allah adalah kesabaran yang paling utama, karena untuk menjalankannya butuh kekuatan yang lebih, kesabaran yang aktif, dan masih banyak alternative yang lebih mudah ketimbang menjalankan perintah Allah. Berbeda dengan sabar menerima takdir, maka sabar jenis ini adalah satu-satunya pilihan. Sabar atau tidak takdir Allah akan tetap terjadi.

Bahkan kewajiban menjalankan perintah Allah bisa ditukar dengan kenikmatan dunia jikalau tidak tahan godaan, sebagaimana yang ditawarkan kepada Rasulullah saw. Ketika paman Rasulullah, Abu Thalib masih hidup, kaum kafir mendatanginya dengan memberikan tawaran berupa kesenangan dunia, yaitu harta, tahta, dan wanita tapi Rasulullah menolak tawaran itu Rasulullah SAW. bersabda: “Kalaupun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan risalah ini, pastilah tidak akan aku meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku binasa.”

 

  1. 2.                Menahan diri untuk tidak melakukan yang terlarang.

Untuk sabar ini Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an. Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”

Sesungguhnya nafsu, tipu daya setan, dan teman sejawat yang buruk akan senantiasa memerintahkan dan menyeret seseorang untuk berbuat kemaksiatan. Oleh karenanya, kekuatan kesabaran jenis ini mempengaruhi tindakan seorang hamba dalam meninggalkan segenap kemaksiatan. Sebagian ulama salaf mengatakan,

أَعْمَالُ الْبِرِّ يَفْعَلُهَا الْبَرُّ وَ الْفَاجِرُ, وَ لاَ يَقْدِرُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي إِلاَّ صِدِّيْقٌ

“Setiap orang yang baik maupun yang fajir (pelaku kemaksiatan) turut melakukan kebaikan. Namun hanya orang yang bertitel shiddiq yang mampu meninggalkan seluruh perkara maksiat.”

Lihatlah Nabi Yusuf ketika digoda oleh Zulaikha untuk berbuat lacur, melakukan perbuatan zina yang keji, maka Nabi Yusuf bertahan untuk tidak melanggar larangan Allah tersebut meski dorongan nafsunya ingin melakukannya. Ini adalah kesabaran tingkat dua yaitu menahan diri dari mengerjakan larangan Allah.

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yusuf (12): 53)

 

  1. 3.                Menerima takdir baik dan buruk.

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17).

Beliau di buang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, maka ini adalah kesabaran tingkatan pertama yaitu kesabaran untuk menerima musibah atau menerima takdir baik takdir itu menyenangkan dirinya atau mungkin menyengsarakan. Jadi termasuk sabar jenis ini adalah sabar terhadap datangnya musibah.

Berkaitan sabar terhadap takdir ini Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Segala perkara yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila kebaikan dialaminya, maka ia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila keburukan menimpanya, dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.”[1]

 

Sabar adalah sebuah aktivitas, ia ada karena diniatkan dan dikerjakan, jadi sabar bukan orang yang berdiam diri dalam suatu keadaan. Dalam Islam sabar adalah upaya yang dilakukan sesorang, sebuah amalan untuk mendapatkan atau mencari ridho Allah. Dalam QS. Al Kahfi 18: 28, Allah swt berfirman:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Ayat ini menegaskan bahwa seseorang yang dalam perjalanan meraih ridho Allah itu, ia harus menisbatkan dirinya menjadi bagian dari orang-orang yang ‘yad’una rabbahum’ menyeru, bedoa dan beribadah kepada Tuhannya, maka ia harus sabar dalam perjalanan itu. Artinya harus bertahan berjamaah bersama dengan mereka apapun tantangannya. Allah mengingatkan bahwa godaan dunia bisa memalingkan hati karena barangkali jalan keimanan tidak selalu menjanjikan kemakmuran duniawi, juga bisa menjadikan lupa dari mngingat Allah Ta’ala.

Berlaku sabar itu memang berat, sehingga pantaslah jika Allah menjanjikan pahala yang tak terbatas, sesuai dengan derajat kesabaran seseorang, dan hanya Allah-lah yang tahu kwalias dan kwantitas kesabaran dalam dada seorang manusia. Allah Ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az-Zumar (39): 10).

Tentang kesabaran ini Allah berfirman:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.  (Al Baqaah (2): 155-157).

Ayat tersebut berfirman ‘walanabluwannakum’ artinya kami akan memberikan ujian atau cobaan, sehingga ujian itu adalah sebuah alat ukur untuk bisa memberikan penilaian terhadap sesuatu hal. Inilah parameter kesabaran yang hendak dinilai oleh Allah, maka semua harus melewati ujian. Kesabaran pasti diuji.

Selanjutnya, Allah juga menjelaskan tentang sumber ujian yaitu dalam Surat Ali Imran (3): 186:

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

Ujian itu bisa berasal dari:

–              internal dirinya, yaitu berupa amwalukum wa anfusukum (hartamu dan jiwamu).

–             External, yaitu gangguan dari ahli kitab dan orang-orang musyrik yang mnyakitkan hati (wa latasma’unna minnalladzina utul kitaba min qoblikum wa minnalladzina asyroku adzan katsiro).

Dai ujian ujian tersebut maka akan terseleksilah diantara manusia siapa yang layak disebut pengikut para rasul dan bagian dari jamaah kaum mukminin, Allah ta’ala berfirman:

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 146).

Maka  pengikut para nabi ‘wamaa hanu lima ashobahum fii sabilillah’ –dan mereka tidak menjadi lemah karena ujian yang menimpa- inilah kualitas para generasi robbani, pengikut dan penerus para nabi. Mereka kuat menempuh segala rintangan untuk senantiasa berjalan di jalan Allah.

 

FAKTOR-FAKTOR YANG MENDUKUNG KESABARAN

  1. Memahami bahwa konsekuensi hidup adalah susah payah. Allah ta’ala berfirman dalam QS. Al Balad (10): 4, : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Banyak orang yang merasa berat menempuh ujian hidup, menanggung susah payahnya menghadapi persoalan hidup, padahal Allah sudah menegaskan bahwa susah payah adalah bagian dari hidup itu sendiri, sebuah konsekuensi bagi setiap manusia. Susah payah juga menjadi kendala manusia untuk sabar menempuh jalan yang lurus, mereka beranggapan, berjalan dengan kebenaran itu menyusahkan sehingga mereka berpaling menuju kesesatan dengan alas an –menghindari susah payah, atau mereka meninggalkan perintah Allah dengan harapan akan mengerjakan jika hidup tidak lagi susah payah. Maka sadarilah susah payah dalam hidup adalah sebuah keniscayaan dan tidak ada manusia yang hidup tidak menanggung susah payah, tentu dengan ragamnya masing-masing.
  2. Menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Allah. Seringkali manusia begitu bersedih ketika apa yang sedang dinikmatinya, berupa harta benda, kesenangan, kemudahan, kesempatan atau kesehatan terlepas dari genggamannya. Ia merasa begitu terpukul dan seperti menerima bencana yang amat berat. Ini terjadi karena terlalu besarnya rasa memiliki, ia tidak sadar bahwa semua itu hanyakah titipan dari Allah semata. Allah Ta’ala berfirman: Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (QS. 16: 53).
  3. Pengharapan akan memperoleh pahala yang tidak terbatas, sebagaimana telah Allah janjikan dalam firman-Nya: Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar (39): 10).
  4. Keyakinan bahwa dalam setiap kesulitan itu bersamaan pula ada kemudahaan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Surat Al Insyiroah: 5-6).
  5. Keyakinan terhadap Qodho dan Qodar sehingga segala yang menimpa tidak lain hanyalah karena kehendak-Nya. Allah ta’ala berfirman: Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS. Al Hadid (57): 22).

 

HAMBATAN-HAMBATAN DALAM BERLAKU SABAR

  1. Sikap tergesa-gesa.

Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera. (Al Anbya (21): 37)x

Nabi SAW juga bersabda:“Tergesa-gesa adalah termasuk perbuatan setan,” (HR Tirmidzi).

Dalam hadits yang lain Rasulullah juga bersabda: “Bukan akhlak seorang mukmin berbicara dengan lidah yang tidak sesuai kandungan hatinya. Ketenangan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah dari setan.” (HR. Asysyihaab).

Jangankan dalam hal duniawi yang hukumnya mubah, untuk urusan akherat dan ibadah mahdhah saja, Rasulullah melarang kita untuk tergesa-gesa: Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Apabila kamu mendengar iqamah, maka pergilah shalat (berjamaah). Hendaklah kamu bersikap tenang dan tenteram, jangan tergesa-gesa. Apa yang kamu dapati, shalatlah kamu bersama mereka; dan apa yang terlewatkan (ketinggalan), maka sempurnakanlah.” [HR Bukhari]

Bahkan saat makan pun tidak boleh terburu-buru:

Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila telah dihidangkan makan malam, maka mulailah sebelum kamu shalat magrib. Janganlah kamu tergesa-gesa terhadap makan malammu.” [HR Bukhari]

Ibnu Umar berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Apabila makan malam telah dihidangkan dan iqamah untuk shalat telah diucapkan, maka dahulukanlah makan malam dan jangan terburu-buru hingga kamu selesai makan.” (Dan dalam satu riwayat: hingga ia menyelesaikan keperluannya). [HR Bukhari]

Dalam membaca Al Qur’an juga tidak boleh tergesa-gesa.

“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” [Thaahaa 114]

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Asyyaj Abdil Qais:

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ

“Sesungguhnya di dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu sabar dan berhati-hati.” (HR. Muslim no. 5225)

Tergesa-gesa adalah sifat yang meniadakan kehati-hatian, dan meninggalkan kehati-hatian sama saja meninggalkan kesabaran. Ketergesa-gesaan akan menggelincirkan seseorang dari jalan kebenaran dan keselamatan, sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair:

Dan seorang penyair telah berkata:

قَدْ يُدْرِكُ الْمُتَأَنِّي بَعْضَ حَاجَتِهِ            وَقَدْ يَكُوْنُ مَعَ الْمُسْتَعْجِلِ الزَّلَلُ

“Betapa seringnya orang yang berhati-hati mendapatkan apa yang dia butuhkan, dan betapa seringnya orang yang tergesa-gesa itu tergelincir.”

 

  1. Marah.

Walaupun  marah adalah salah satu fitrah manusiawi pemberian sang Khalik,  namun Allah SWT dan Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam  untuk menahan marah. Al Jurjani berkata: Marah adalah perubahan yang terjadi saat darah yang ada di dalam hati bergejolak sehingga menimbulkan kepuasan di dalam dada. Marah adalah gejolak yang timbulkan oleh setan. dia mengakibatkan berbagai bencana dan malapetaka yang tak seorangpun mengetahuinya melainkan Allah Subhanhu Wa Ta’ala.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiallahu anhu” Bahwa seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَوْصِنِي قَالَ:لاَ تَغْضَبْ, فَرَدَّدَ ذَلِكَ مِرَارًا قَالَ لاَ تَغْضَبْ

“Berilah aku wasiat beliau berkata: “Janganlah marah” Beliau mengulangi wasiat itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: “Janganlah marah”. [HR. Bukhari]

“Janganlah marah maka bagimu adalah surga“. [Hadits shahih].

Kemarahan menghilangkan kesabaran sebagaimana terjadi pada Nabi Yunus ketika marah terhadap kaumnya yang menolak dakwahnya, ketidaksabarannya berujung pada kemarahan, Ia meninggalkan kaumnya sehingga justru ia ditelan ikan Nun. Allah mencatatnya dalam al Qur’an: Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya) (QS. Al Qolam (64): 48).

Nabi bahkan mengatakan bahwa menahan kemarahan itu bisa menjadi jalan dalam meraih surga: Di zaman Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam ada seorang lelaki yang datang menemui Beliau dan mengatakan,“Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)

 

  1. Putus Asa

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS, Yusuf (12): 87).

 

KAPAN SABAR MENJADI PENTING

ADA saat tertentu dimana kesabaran harus senantiasa ada dalam hati kita, tanpa keabaran maka bukan hanya kegagalan yang kita peroleh tapi juga peringatan bahkan azab dari Allah Ta’ala. Kesabaran mutlak diperlukan dalam hal:

  1. 1.                Berdakwah

Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. (QS. Nuh (71): 5-7).

Nabi Nuh telah berdakwah kurang lebih 950 tahun, tetapi pengikut beliau tidak lebih dari 70 orang. Nabi juga mengadukan perihal qaumnya ini dalam ayat diatas, bahwa setiap kali beliau mendakwahi qaumnya, seruan dakwahnya justru semakin menjadikan mereka jauh dari kebenaran bahkan lari dari kebenaran.

Maka andaikata dakwah tidak disertai dengan kesabaran maka akan banyak orang lari dari beban dakwah itu. Allah pernah pernah menghukum Nabi Yunus karena ketidak sabarannya dalam berdakwah:

Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya) (QS. Al Qolam (68): 48).

Yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah Nabi Yunus, ia ditelan ikan Nun setelah meninggalkan kaumnya karena marah kepada kaumnya yang tidak merespon dakwah beliau.

Hambatan dan ancaman dalam dakwah juga dialami Rasulullah saw terutama setelah wafatnya paman beliau Abu Thlib. Setelah Abu Thalib wafat, kaum kafir pun makin leluasa dan semakin menjadi-jadi dalam usahanya menghentikan dakwah Rasulullah. Tidak hanya cacian, makian bahkan penganiayaan fisik dan rencan pembunuhan dilakukan untuk menghentikan dakwah Rasulullah SAW.

“Bersabarlah (Hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”(Q.S. An-Nahl: 127).

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila disakiti ketika beliau mendakwahi kaumnya, beliau meneladani Nabi Musa as  dengan mengucapkan,

يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى لَقَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

“Semoga Allah merahmati Musa. Sungguh beliau telah disakiti (oleh kaumnya) dengan (musibah) yang lebih daripada (ujian yang saya alami ini), namun beliau dapat bersabar.”

Ketika Rasulullah dilepari batu ketika berdakwah di Thaif, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Ya Allah ampunilah kaumku, karena sungguh mereka tidak mengetahui.”

Inilah teladan-teladan keabaran dalam berdakwah, yang telah dicontohkan oleh semua nabi dan Rasul serta para pengikut-pengikutnya.

  1. 2.                Sabar dalam Peperangan

Sudah kita maklumi bersama: jihad adalah amalan tertinggi dalam islam. Tidak ada satupun amal yang mampu menyamainya. Keutamaannya terlalu agung sehingga setiap pelakunya yang ikhlas dipastikan masuk surga. Tidak ada yang aneh dengan persamaan ini bagi kita. Tentu saja: jihad berarti berkorban apa yang paling manusia biasanya tak ingin korbankan, yakni “kehidupan”. Bahwa jihad berarti mempersembahkan nyawa untuk Allah semata.

Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi, “Kedua kaki hamba-Ku yang dilibat debu dalam perang fi sabilillah tidak akan tersentuh api neraka.”(HR. Bukhari).

“Tidaklah sama antara, mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahal yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. an-Nisa [4]:95-96).

Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123).

Lihatlah keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunyabersumpahmogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan, “Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133)

Rasulullah bersabda : Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kalian berangan-angan untuk menghadapi musuh. Namun jika kalian sudah menghadapinya maka bersabarlah (untuk menghadapinya).” HR. Muslim.

 

  1. Sabar dalam Beramal Shaleh
  2. Sabar dalam Menghadapi Kehidupan Dunia

 

SABAR ADALAH PERINTAH

Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama [3] orang-orang yang bersabar” [Al-Anfal : 46]

16 Nov

Tawakal

Tawakal merupakan amalan hati:

Menurut Imam Ahmad bin Hambal: Tawakal merupakan aktivis hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan. (Al-Jauzi/ Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337)

Tawakal merupakan ibadah uluhiyah:

Ibnu Qoyim al-Jauzi berkata: “Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-faktor yang mengarakhkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.” (Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)

Definisi tawakal secara lughowi:

Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan (Munawir, 1984 : 1687) sesuatu urusan kepada pihak lain karena mengakui ketidakmampuan diri.

Definisi syara’:

mempercayakan sepenuhnya kepada Allah dengan keyakinan bahwa Allahlah yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, disertai dengan upaya menjalankan semua penyebab yang diperintahkan Allah. (menurut Ibnu Utsaimin).

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dlm mengupayakan yang dicari & menolak apa-apa yang tak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala & menempuh sebab (sebab adalah upaya & aktifitas yang dilakukan utk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at.

Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam, “Tawakal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘azza wa jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata‘.”

Menurut Syeikh Utsaimin syarat tawakal ada 2: Pertama, penyandaran diri kepada Alloh dengan sebenar-benarnya dan nyata. Kedua, harus menempuh sebab yang diizinkan syariat.” (al Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid, Ibnu Utsaimin, 2/87-88)

Kesimpulan tawakal menurut dien:

  1. 1.     Allahlah yang mendatangkan manfaat bagi mahluk-Nya

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala (yang artinya):

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).

Al Qurtubi dalam Al Jami’ Liahkamil Qur’an mengatakan, “Barang siapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini kepada Abu Dzar. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Seandainya semua manusia mengambil nasihat ini, sungguh hal ini akan mencukupi mereka.” Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka. (Jami’ul Ulum wal Hikam, penjelasan hadits no. 49).

Bertaqwa adalah sebuah sikap untuk menjaga diri agar senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Dalam mengambil sikap taqwa ia kemudian bertawakal kepada Allah terhadap segala resiko yang akan dihadapi dalam ketaqwaannya itu. Dan Allah memberikan jaminannya kepada hambanya yang bertakwa itu untuk memberikan jalan keluar.

Misalnya seseorang yang mengalami kesulitan ekonomi tapi dia mengambil sikap takwa, yaitu tetap tidak mengambil rezeki yang haram meski ada kesempatan dan ia sangat membutuhkan. Ia bertawakal kepada Allah, menyerahkan semuanya kepada Allah sambik terus berikhtiar mengusahakan rezeki yang halal meski sulit. Maka, jika ia istiqomah Allah berjanji akan memberikan jalan keluar terhadap permasalahannya itu (yaj’alahu makhroja). Bahkan memberikan rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka (yarzuqhu min haistu la yastahsib). Dan dengan tawakal Allah akan mencukupi kebutuhannya (wa ma yatawakal ‘alallah wa huwa hasbuh).

Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, ‘Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.’ (QS. Al-Imran: 159)

berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Al Maidah: 23)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal. (QS. Al Maidah: 11)

 

  1. 2.     Allahlah yang menolak bahaya bagi mahluk-Nya

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), Maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal. (QS. Al Maidah:11)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”.(QS. Ali Imran: 60)

Contoh tawakal yang sempurna adalah kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang menentang penyembahan berhala kaumnya, kemudian beliau ditangkap dan dihukum akan di bakar si sebuah api unggun yang besar.

Nabi Ibrahim ditangkap dan diikat, sementara mereka bersegera mencari kayu api untuk membakarnya. Tak lama kemudian, kayu bakar pun terkumpul bagaikan bukit. Mereka mulai menyalakan api, dan berkobarlah api yang sangat besar, mengerikan. Dalam keadaan terikat, Nabi Ibrahim AS diletakkan pada salah satu manjanik (pelontar peluru/batu), lalu dilemparkan ke dalam kobaran api tersebut. Diceritakan, bahwa yang melontarkannya adalah ayahnya sendiri, Azar. Wallahu a’lam bish-shawab.

Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah Dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”. (QS. 37/97)

Pada waktu dilemparkan itu, beliau mengucapkan:

“Hasbunallah wa ni’mal wakil.”

“Cukuplah Allah bagiku, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” (HR. al-Bukhari no. 4563 dari Ibnu ‘Abbas).

Ketika beliau sedang melayang di udara itu, tiba-tiba Jibril datang menawarkan bantuannya, “Apakah engkau membutuhkan sesuatu?”

Nabi Ibrahim AS berkata, “Adapun kepadamu, tidak. Akan tetapi, kalau kepada Allah, tentu.” (Tafsir Ibnu Katsir, Surat al-Anbiya)

Menjawab kepasrahan Ibrahim ini Allah berfirman:

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, Maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. (QS. 21: 69-70)

Bertawakal atau bergantung itu hendaknya hanya kepada Allah, karena Allahlah yang bisa memberikan pertolongan dan kemanfaatan kepada manusia, ketika Allah memberikan pertolongan maka tidak ada satu makhlukpun yang mampu menimpakan bahaya atasnya. Dan tidak ada yang dapat melakukannya selain Allah.

  1. 3.     Harus dengan ikhtiar yang sesuai dengan syariat Allah.

Tawakal harus diteguhkan dengan dilakukannya sebab musabab: itsbatu fil asbabi wal musabaabi. Memiliki keyakinan akan keharusan melakukan usaha. Karena siapa yang menafikan keharusan adanya usaha, maka tawakalnya tidak benar sama sekali. Seperti seseorang yang ingin pergi haji, kemudian dia hanya duduk di rumahnya, maka sampai kapanpun ia tidak akan pernah sampai ke Mekah. Namun hendaknya ia memulai dengan menabung, kemudian pergi kesana denan kendaraan yang dapat menyampaikannya ke tujuannya tersebut.

Ibnu Rajab mengatakan bahwa menjalankan tawakal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan. Karena Allah memerintahkan kita untuk melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakal. Oleh karena itu, usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab termasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya.

Dari Umar bin Khattab ra berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: ” Ikatlah untamu dan bertawakallah ” ( R. Ibnu Hibban ).

Ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar hendak berhijrah ke Yastrib, mereka dikejar bala tentara kafir Quraisy kea rah selatan Mekkah. Ketika hamper terkejar Rasulullah dan Abu Bakar RA memasuki gua Tsur.

Abu Bakar berkata, “Aku bersama Rasulullah di dalam gua itu. Aku melihat telapak kaki orang-orang musyrik. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka mengangkat kakinya, niscaya mereka akan melihat kita.” Namun, Rasulullah menghibur Abu Bakar dan bersabda, ‘Apakah persangkaanmu terhadap dua orang sedang yang ketiganya adalah Allah?”

Tentang hal ini Allah menyebutkan dalam firman-Nya, “Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya. (Yaitu) ketika orang-orang kafir (Makkah) mengeluarkannya dari Makkah, sedangkan dia adalah salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua. Di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.” (QS. At-Taubah: 40).

Ayat lain tentang tawakal:

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. Taubah: 51)

Tawakal dalam dakwah:

Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. (QS. 10/71)

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS. 2/197)

Menurut suatu riwayat, orang-orang Yaman apabila naik haji tidak membawa bekal apa-apa, dengan alasan tawakal kepada Allah. Maka turunlah “watazawwadu fa inna khairo zadi taqwa” sebagian dari (S. 2: 197) (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lainnya yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Contoh tawakal:

Dari jabir ra ia berkata ”saya berperang bersama nabi saw menuju ke arah najd, tatkala rasulullah kembali kami pun ikut kembali, di suatu lembah yang banyak pohon berduri kami merasa payah dan mengantuk. rasulullah saw pun turun dan menggantungkan  pedangnya, sedangkan kami semua tertidur .tiba-tiba rasulullah saw memanggil kami sedangkan didekat beliau ada seseorang badui, kemudian beliau bersabda; sesungguhnya orang ini telah menghunus pedangku sewaktu aku tertidur, setelah aku terbangun pedang itu sedang terhunus di tangannya lalu orang ini berkata; siapakah yang dapat mencegah kamu dari seranganku?aku menjawab “Alloh (tiga kali) kemudian orang itu tidak melakukan apa-apa dan langsung duduk (HR bukhari dan muslim).

Tawakal dalam mencari rizki: Dari umar ra. ia berkata aku mendengar rasulullah saw bersabda’andaikan kalian benar-benar bertawakal  kepada Allah niscaya  Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana  dia memberik rezeki kepada burung  yaitu keluar dengan prut kosong di pagi hari dan kembali dengan perut kenyang di sore hari (HR tirmidzi).

 

 

Ridho

Ridho(رِضً) berarti suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah.

Kata ridha berasal dari bahasa Arab yang makna harfiahnya mengandung pengertian senang, suka, rela, menerima dengan sepenuh hati, serta menyetujui secara penuh , sedang lawan katanya adalah benci atau tidak senang.

Lawan ridho adalah murka, tidak terima.

Secara bahasa ridho berarti menerima apapun yang diberikan, menerima apapun ketentuan Allah.

Secara agama ridho ada 2:

  1. Ridho Allah kepada makhluq

Apabila makhluk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. (Kalau Allah ridho kepada makhluk maka Dia akan mengijabah doa hamba-hanba-Nya.

Allah berfirman: Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. Al Fath : 18)

  1. Ridho makhluk kepada Allah

Menerima semua takdir dan ketetapan dari Allah Ta’ala dengan rela dan tidak pernah mengeluh.

Contoh kasus: Misal Nabi Ayub sakit kulit dan ditinggal istri, anak dan hartanya.

Dasar ayat:

47/28

yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.

9/59

Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi Kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).

-menerima takdir dan ketentuan Allah dengan lapang dada.

– untuk mendapatkan ridho Allah diperlukan perjuangan dan pengorbanan agar memperoleh ridho Allah Ta’ala.

2/265

dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.

2/207š

 dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.